Pada laga pertama Grup L Piala Dunia, Inggris menghadapi Kroasia di Dallas. Ini adalah pemanasan untuk perebutan posisi puncak grup — jika dilihat dari kekuatan masing-masing tim, dua tim inilah yang paling berpeluang lolos langsung dari Grup L, dan hasil pertemuan di pekan pertama kemungkinan besar akan menentukan siapa yang finis sebagai juara grup.
Kekuatan Inggris di atas kertas tidak perlu diragukan lagi. Mereka menyapu bersih 8 laga kualifikasi dengan kemenangan, mencetak 22 gol tanpa kebobolan, dan lini belakang yang kokoh hampir tanpa celah. Trio lini tengah yang terdiri dari Bellingham, Rice, dan Anderson memiliki kemampuan lari serta duel fisik yang termasuk terbaik di Eropa. Di lini depan, Harry Kane, Saka, Rashford, dan lainnya membentuk barisan serang dengan daya gedor yang melimpah, sehingga sama sekali tak perlu khawatir soal kemampuan mencetak gol.
Namun, ada pula kekhawatiran yang menyertai Inggris. Gagasan taktik Tuchel adalah menjadikan Rice dan Bellingham sebagai pengatur penguasaan bola, bahkan dengan mengorbankan pemain-pemain ofensif seperti Palmer dan Foden. Sistem ini bekerja mulus saat menghadapi lawan yang lebih lemah di kualifikasi, tetapi saat berhadapan dengan Kroasia yang berpengalaman dan sangat disiplin secara taktik, perebutan kendali di lini tengah akan menjadi penentu arah pertandingan.
Kelemahan terbesar Kroasia adalah pertahanan. Dalam 6 laga terakhir di semua ajang, mereka selalu kebobolan dan total sudah kemasukan 10 gol, menunjukkan stabilitas serta kemampuan duel lini belakang yang jelas belum memadai. Menghadapi Inggris yang sangat kuat secara fisik, barisan pertahanan ini memang akan berada di bawah tekanan besar. Modric akan menjalani Piala Dunia terakhirnya, dan di usia 37 tahun ia tetap menjadi metronom tim, tetapi struktur usia di lini tengah yang cenderung tua adalah fakta yang tak terbantahkan.
Namun, yang tak boleh diabaikan adalah ketangguhan Kroasia di panggung Piala Dunia. Pada semifinal 2018, justru Kroasia yang menyingkirkan Inggris lewat kemenangan 2-1 di babak tambahan waktu. Dari 11 pertemuan sepanjang sejarah, Inggris unggul dengan 6 kemenangan, 2 imbang, dan 3 kekalahan, tetapi Kroasia belum pernah dibobol Inggris dengan selisih lebih dari dua gol dalam waktu normal.
Dari sisi handicap, garis awal tuan rumah memberi satu gol, lalu menjelang laga turun menjadi setengah/satu. Sementara itu, nilai handicap untuk tim tuan rumah naik dari level rendah ke kisaran 0,92-0,95 di level menengah-tinggi. Penurunan garis dan kenaikan nilai ini menunjukkan keyakinan bahwa Inggris menang sekaligus menutup handicap tidak terlalu kuat.
Secara keseluruhan, Inggris memang lebih diunggulkan, tetapi kemampuan Kroasia menahan tekanan dan pengalaman mereka di laga besar tidak boleh diremehkan. Pada laga ini, tim tamu diprediksi mampu menjaga handicap.
Rekomendasi Asian handicap: Kroasia +0,5/+1.